HUKUM RIBA, DAN BUNGA BANK DALAM SUDUT PANDANGAN ISLAM
HUKUM
RIBA, DAN BUNGA BANK DALAM SUDUT PANDANGAN ISLAM
By : Ir.
Frans SD Syahrial, MM.
“Ar-ribaa”
menurut bahasa artinya az-ziyaadah yaitu tambahan atau kelebihan.
Riba menurut istilah syara’ ialah suatu aqad perjanjian yang
terjadi dalam tukar-menukar suatu barang yang tidak diketahui sama
atau tidaknya menurut syara’ atau dalam tukar-menukar itu
disyaratkan dengan menerima salah satu dari dua barang.
- Riba Fadhl, yaitu tukar-menukar dua barang yang sama jenisnya dengan tidak sama ukurannya yang disyaratkan oleh yang menukarkan. Contoh, tukar-menukar emas dengan emas, beras dengan beras, dengan ada kelebihan yang disyaratkan oleh orang yang menukarkannya. Supaya tukar-menukar seperti ini tidak termasuk riba, maka harus memenuhi tiga syarat :
- Tukar-menukar barang tersebut harus sama
- Timbangan atau takarannya harus sama
- Serah terima
pada saat itu juga.
Dari Ubadah bin Ash-Shamit ra, Nabi SAW telah bersabda : “Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, syair dengan syair, kurma dengan kurma, garam dengan garam, hendaklah sama banyaknya, tunai dan timbang terima, maka apabila berlainan jenisnya, maka boleh kamu menjual sekehendakmu, asalkan dengan tunai.” (HR. Muslim dan Ahmad).
- Riba Qardhi, yaitu meminjamkan sesuatu dengan syarat ada keuntungan atau tambahan dari orang yang meminjami. Contoh, A meminjam uang kepada B sebesar Rp. 5.000 dan B mengharuskan kepada A mengembalikan uang itu sebesar Rp. 5.500. Tambahan lima ratus rupiah adalah riba qardhi.
- Riba Yad, yaitu berpisah dari tempat aqad jual-beli sebelum serah terima. Misalnya orang yang membeli suatu barang sebelum ia menerima barang tersebut dari penjual, antara penjual dan pembeli berpisah sebelum serah terima barang itu.
- Riba Nasiah, yaitu tukar-menukar dua barang yang sejenis maupun tidak sejenis atau jua-beli yang bayarannya disyaratkan lebih oleh penjual dengan dilambatkan. Contoh, A membeli arloji seharga Rp. 500.000. Oleh penjual disyaratkan membayarnya tahun depan dengan harga Rp. 525.000. Ketentuan melambatkan pembayaran satu tahun dinamakan riba nasiah.
Tuhan
Allah SWT berfirman tentang Riba dalam Alquran surat Ali Imran 130
berbunyi :
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا
الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً ۖ
وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُونَ
{١٣٠}
Terjemahannya
sebagai berikut :
Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda,
dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat
keberuntungan.(Surat Ali Imran ayat 130).
Dengan melihat sumber
dari surat Ali Imran 130, dapat kita simpulkan bahwa Allah SWT
melarang kita memakan riba dengan berlipat ganda. Kata
riba jelas artinya bertambah atau berlebihan kemudian dilanjutkan
dengan kata berlipat ganda. Ini jelas bahwa ayat ini bertentangan
(kontradiksi ) dengan pendapat jumhur ulama dengan adanya istilah
riba qardhi dan riba nasiah. Dari konteks riba dengan surat Ali Imran
130 diatas ini bahwa dapat ditarik suatu benang merah, bahwa Allah
SWT melarang orang melakukan riba dengan melipat gandakan. Dalam
bilangan matematika bahwa bilangan berlipat artinya bilangan
mengandakan. Dengah menilik firman Tuhan dengan kalimat memakan riba
dengan melipat ganda artinya jelas sudah digandakan kemudian
digandakan lagi. Nah disini jelas maksud ayat tersebut diatas bahwa
riba dengan melipat ganda yaitu riba dengan mengganda dan
menggandakan (double to double interest) atau bunga ber bunga sungguh
dilarang oleh Allah SWT. Misalnya Si badu meminjamkan uang sebesar RP
500.000,. Kemudian ada perjanjian dengan sipemberi dana (uang) bahwa
dalam tempo empat puluh hari uang tersebut akan dikembalikan
berjumlah Rp 1000.000,. Namun setelah empat puluh hari si Badu gak
sanggup mengembalikan karena berlipat dari pokok (modal) pinjaman
maka sibadu oleh si pemberi dana dikena sangsi sebesar Rp 500.000,
total dia harus mengembalikan uang sebesar Rp 1500.000,. Kalau
berikut dia tidak bisa bayar maka kembali bunga diganda (dilipatkan)
kepada si penerima dana, maka lama kelamaan si peminjam dana (uang)
gak sanggup mengembalikan, maka semua harta yang dia punya habis
untuk membayar bunga berlipat ganda ini. Nah Riba jenis ini yang
berlaku di zaman Jahiliyah inilah yang dilarang oleh Allah SWT. Jadi
bagaimana Pak Frans kalau seandainya ada akad (perjanjian) yang tidak
memberatkan antara pemberi dana dengan peminjam dana dengan profit
lunat (soft interest)
misal
akad (perjanjian) antara pemberi dana dengan peminjam dana misalnya
uang dipinjam sebesar Ro 500.000,. dengan perjanjian 40 hari dengan
profit Rp 100.000,. artinya selama 40 hari dia akan bayar sebesar
Rp 600.000,. maka ini tidak termasuk riba yang dilarang oleh Allah
SWT dan selama tidak ada sangsi telat bayar lebih dari 40 hari
kebetulan si pulan tidak bisa membayar tepat waktu dan tidak
dikenakan sangsi interest (bunga) maka hal ini tidak termasuk yang
dikategori oleh Allah SWT tsb yaitu “Riba Dengan Melipat Ganda”
.
Dan
kalau semua berbau tambahan disebut riba, maka roda per-ekonomian
tidak jalan, mana ada orang yang mau meminjamkan uang dengan jangka
waktu yang lama dibayar sesuai dengan pokok (modal) yang ia terima ?
nah inilah yang perlu dikaji lebih dalam dan kalau kita strick
dengan riba artinya melebihi atau bertambah, maka perekenomian tidak
akan jalan dan roda perusahaan tidak akan jalan karena semua riba ?
Bahkan gaji kita terima juga berbau riba karena ada perusahaan
bermain valas. Islam mendorong umatnya hidup layak dan makmur dan
saling berusaha menolong satu dengan yang lain dengan imbalan saling
menguntungkan bukan saling menghancurkan. Dan pertanyaan kita
selanjutnya bagaimana dengan praktik arisan RT maupun RW dimana
meminjam uang dengan dikenakan bunga (interest) apakah itu bukan riba
? ...... Think about that.
Sebagai
jalan tengah adalah perlu adanya perubahan sistem keuangan perbank-an
artinya perlu ada suatu (aqad) perjanjian yang tidak memberatkan
sipemberi modal dan sipeminjam modal, dimana adanya kemufakatan
dengan dasar saling menguntungkan dengan adanya soft interest (bunga
sekecil kecilnya) dengan dasar ihlas dan ridho saling memanfaatkan
transaksi ini dan menjauhi praktik double to double interest (bunga
berlipat ganda). Dengan hal ini, maka riba yang dilarang oleh Allah
SWT akan terhindari amin
(bersambung kajian riba minggu depan).
0 komentar:
Posting Komentar